Kisah Tragis Diego Maradona di Piala Dunia 1994: Dari Harapan Kebangkitan hingga Skandal Doping yang Menghancurkan Argentina

Kisah Tragis Diego Maradona di Piala Dunia 1994: Dari Harapan Kebangkitan hingga Skandal Doping yang Menghancurkan Argentina
Kisah Tragis Diego Maradona di Piala Dunia 1994: Dari Harapan Kebangkitan hingga Skandal Doping yang Menghancurkan Argentina. FOTO : IG maradona

JAKARTA, sfcterkini.com – Nama Diego Maradona tidak hanya dikenang sebagai salah satu pesepak bola terbaik sepanjang sejarah, tetapi juga sebagai sosok penuh kontroversi yang perjalanan hidupnya dipenuhi drama.

Setelah membawa Argentina national football team menjuarai 1986 FIFA World Cup dan mengantar Tim Tango ke final 1990 FIFA World Cup, kehidupan Maradona justru mulai berubah drastis.

Popularitas besar yang diraihnya di lapangan tidak berjalan seiring dengan kondisi pribadinya di luar sepak bola. Saat masih memperkuat SSC Napoli, Maradona mulai jarang hadir dalam sesi latihan dan terlibat berbagai persoalan di luar lapangan. Hubungannya dengan manajemen Napoli memburuk, meskipun ia sebelumnya dianggap sebagai pahlawan yang membawa klub itu meraih dua gelar Liga Italia pertama dalam sejarah mereka.

Pada Januari 1991, Napoli menjatuhkan denda besar kepada Maradona karena dianggap melanggar disiplin dan merusak citra klub akibat berbagai skandal pribadi. Situasi semakin memburuk ketika dua bulan kemudian ia gagal dalam tes doping setelah pertandingan melawan Bari.

Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kandungan kokain dalam sampel urinenya. Kasus tersebut langsung mengguncang dunia sepak bola internasional. FIFA kemudian menjatuhkan hukuman larangan beraktivitas di sepak bola selama 15 bulan mulai 31 Maret 1991.

Karier Maradona yang sebelumnya dipenuhi kejayaan mendadak berubah menjadi mimpi buruk. Setelah hukumannya selesai pada 1992, ia sempat bergabung dengan Sevilla FC sebelum kembali ke Argentina untuk memperkuat Newell’s Old Boys pada 1993.

Saat itu kondisi fisiknya menjadi sorotan. Berat badannya meningkat drastis dan performanya jauh menurun. Namun menjelang 1994 FIFA World Cup di Amerika Serikat, Maradona bertekad bangkit dan kembali membawa Argentina berjaya.

Ia menjalani program latihan keras bersama pelatih kebugaran Fernando Signorini dan binaragawan Daniel Cerrini. Hasilnya cukup terlihat. Berat badan Maradona turun signifikan dan ia kembali dipercaya memperkuat Argentina di bawah pelatih Alfio Basile.

Di usia 33 tahun, Maradona masih menunjukkan magisnya. Pada laga pembuka Grup D melawan Greece national football team, ia mencetak gol spektakuler dalam kemenangan 4-0 Argentina. Selebrasi emosionalnya di depan kamera menjadi salah satu momen paling ikonik dalam sejarah Piala Dunia.

Penampilan impresif Argentina berlanjut saat menghadapi Nigeria national football team. Meski sempat tertinggal lebih dulu, Argentina berhasil membalikkan keadaan menjadi 2-1 lewat dua gol Claudio Caniggia hasil assist dan kreativitas Maradona.

Namun selepas pertandingan itulah tragedi besar terjadi.

Maradona dipanggil untuk menjalani tes doping. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya lima jenis zat terlarang yang mengandung efedrina dalam tubuhnya. FIFA kembali mengambil tindakan tegas dengan menjatuhkan hukuman larangan bermain selama 15 bulan.

Kasus tersebut menjadi salah satu skandal terbesar dalam sejarah Piala Dunia. Maradona sendiri membantah sengaja menggunakan zat doping. Ia mengklaim hanya mengonsumsi suplemen yang diberikan pelatih fisiknya tanpa mengetahui kandungan zat terlarang di dalamnya.

“Saya tidak tahu telah mengonsumsi efedrina. Saya bermain dengan jiwa dan hati,” ujar Maradona dalam autobiografinya.

Tanpa sosok sang kapten, Argentina kehilangan arah. Tim Tango kalah 0-2 dari Bulgaria national football team di laga terakhir grup sebelum tersingkir dari 1994 FIFA World Cup usai dikalahkan Romania national football team dengan skor 2-3 pada babak 16 besar.

Mantan rekan setimnya, Roberto Sensini, bahkan meyakini Argentina berpeluang besar menjadi juara dunia apabila Maradona tidak terkena sanksi.

“Saya yakin jika Maradona tidak didiskualifikasi, kami bisa menjuarai Piala Dunia 1994. Tim kami saat itu sangat kuat,” kata Sensini kepada FourFourTwo.

Kisah Maradona bersama timnas Argentina praktis berakhir setelah kejadian tersebut. Ia baru kembali ke Tim Tango pada 2008 sebagai pelatih sebelum mengakhiri perjalanan hidupnya pada 2020.

Menariknya, dua tahun setelah wafatnya Maradona, Argentina akhirnya kembali meraih gelar juara dunia di 2022 FIFA World Cup lewat kepemimpinan sang kapten kidal lain yang sering disebut pewarisnya, Lionel Messi. (bbs)

Berita Terkait